Senin, 07 Juli 2014

Mengapa Jumlah TPS di Salatiga Berkurang?

ARGOMULYO - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Salatiga memastikan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada pilpres nanti akan berkurang dibanding pileg lalu. Hal ini karena akan terjadi penggabungan TPS karena syarat maksimal jumlah pemilih dalam TPS akan ditambah.

Anggota KPU Salatiga Divisi Pemutakhiran Data dan Daftar Pemilih, Pengembangan Organisasi SDM dan Umum Rumah Tangga, Syaemuri, mengatakan, sesuai surat edaran dari KPU Pusat, jumlah pemilih di setiap TPS dalam pilpres bertambah menjadi maksimal 800 orang. Dalam pileg lalu, jumlah pemilih maksimal dalam TPS adalah 500 pemilih.

"Atas dasar surat KPU itu, KPU Salatiga akan menggabungkan TPS dengan pertimbangan efisiensi. Pada pileg lalu jumlah TPS di Salatiga 386, maka pada pilpres berkurang delapan menjadi 378 TPS," kata mantan anggota Panwaslu Salatiga ini. Menurut Syaemuri, penggabungan TPS ini bukan asal menggabungkan tetapidengan pertimbangan tertentu yang melibatkan Panitia Pemungutan Suara (PPS).

Pertimbangan

Pertimbangannya di antaranya memperhatikan partisipasi masyarakat, memudahkan pemilih, memperhatikan aspek geografis, jarak tempuh menuju TPS. Selain itu penggabungan TPS tidak dilakukan bagi pemilih yang berasal dari kelurahan berbeda.

Mengenai permintaan Panwaslu agar KPU menyediakan TPS di sumah sakit, Syaemuri menuturkan, KPU Salatiga sebenarnya siap menjalankan. Hanya saja, hingga kini belum ada petunjuk dari KPU pusat terkait hal itu. Saat ini baru disarankan penyediaan TPS di rumah sakit jiwa.

"Sebaiknya Bawaslu bisa menyampaikan masalah ini ke KPU pusat untuk menerbitkan regulasi pendirian TPS di Rumah sakit. Kami yang di bawah siap menjalankan," katanya.

Sebelumnya, ketua Panwaslu Salatiga Mashuri AK mendesak KPU agar menyediakan TPS di rumah sakit. Sebab pada pemilu legislatif (pileg) lalu, para pasien di sejumlah rumah sakit di Salatiga tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena tidak dilayani dengan disediakan TPS

(Widi/SM)

Polisi dan Linmas Bersiap Amankan Pilpres di Salatiga

SALATIGA-Kapolres Salatiga AKBP Dwi Tunggal Jaladri memimpin upacara pergeseran pasukan pengamanan pemilu presiden di Lapangan Mapolres Salatiga, Senin (7/7) pagi. Dalam upacara tersebut, turut hadir kedua Pimpinan Tim Pemenangan Pasangan Capres serta para pejabat Muspida Salatiga.

“Hari ini, seluruh personel pengamanan Pilpres mulai dari unsur TNI, Polri serta Linmas telah siap disebar di semua TPS di Salatiga. Untuk personel polisi ada 385 personel dan Linmas ada 786, semua hadir lengkap,” terang Jaladri.

Jaladri menegaskan, dalam menjalankan tugasnya, Polri harus bersikap netral yang diwujudkan dalam perkataan maupun perbuatan anggota. “Netralitas harga mati bagi anggota polri, jika melanggar sanksi berat menanti,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, kedua pimpinan tim pemenangan yakni M Teddy Sulistio dari Tim Jokowi-JK serta Prof. Haryoko dari Tim Prabowo-Hatta melakukan penandatanganan ikrar damai yang disaksikan oleh Kapolres, Ketua KPU, Panwaslu serta perwakilan Muspida Salatiga.

(Widi/JWarga)

Jelang Pilpres, Ulama Salatiga Lakukan Doa Bersama



SALATIGA.Doa bersama agar pelaksanaan Pemilu Presiden berjalan aman dan lancar berlangsung di Mushala Kodim 0714/Salatiga, kemarin. Berbagai elemen masyarakat dan personel TNI hadir dalam kegiatan yang dipimpin Ustadz Sertu H Khairi tersebut. Doa bersama itu diawali dengan pembacaan Yasin, tahlil, dan diahiri dengan buka puasa bersama.

Dandim 0714/Salatiga Letkol Arh Tjahjono Prasetyanto melalui Kepala Seksi Personel Kapten Jaswadi menjelaskan, doa bersama menghadirkan tokoh masyarakat dan ulama dari berbagai tempat di wilayah Kodim, yang meliputi Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.

‘’Masyarakat ingin pilpres ini berjalan damai, aman, dan lancar. Setelah berbagai upaya menciptakan keamanan dilakukan, maka tidak ada salahnya bila permohonan doa juga disampaikan kepada Allah Swt,’’ kata Jaswadi.

Menurutnya, momentum pilpres bersamaan dengan bulan Ramadan diharapkan membawa kesejukan dalam nuansa politik di Tanah Air saat pilpres.

Diakuinya, keluarga TNI dalam hal ini Kodim 0714/Salatiga, juga berdoa agar seluruh personelnya dalam keadaam aman di tempat tugas masing-masing.

Begitu juga dengan keluarganya di rumah. Selama ini para personel dilibatkan dalam pengamanan logistik pilpres, pengamanan TPS, dan pascapenghitungan suara.

(Widi/SM)

Jumat, 02 Mei 2014

Wah Foto Bugil Mirip Guru TK di Salatiga Beredar di Sosial Media

SALATIGA-Sala3Nostalgia Foto bugil yang diduga mirip dengan salah satu guru TK di Salatiga beredar di Facebook.  Dalam akun facebook tersebut, ada tiga buah gambar tidak pantas yang diunggah pada 21 April lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Salatiga, Tedjo Supriyanto, kepada sejumlah wartawan mengaku telah menerima laporan atas kasus tersebut.

Tedjo mengatakan kasus tersebut saat ini telah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Tedjo juga menjelaskan, tersebarnya foto tersebut diduga karena ada unsur pemerasan.

“Berdasarkan informasi, kasus tersebut ada indikasi pemerasan. Yang bersangkutan saat ini dalam keadaan trauma,” terang Tedjo.

Di sisi lain, Kabag Humas Pemkot Salatiga, Adi Setiarso mengatakan, laporan kepada kepolisian terkait kasus ini demi kepentingan pemeriksaan foto tersebut apakah rekayasa atau asli. “Kita serahkan kepada yang berwajib untuk memeriksa keaslian foto tersebut,” terang Adi.

Sumber: http://jurnalwarga.com/2014/05/01/foto-bugil-mirip-seorang-guru-tk-di-salatiga-beredar-di-fb.html#ixzz30Xu0sMU8

Benarkah Dahulu Ada Sapi di Pasar "Sapi" Rejosari?


Pasar Ternak Sapi Salatiga 1918
Sala3Nostalgia-Mungkin diantara kita sampai sekarang masih penasaran dengan sebutan Pasar Sapi, nama lain pasar tradisional Rejosari.

Pasar ini terletak di Kelurahan Mangunsari yang terletak di persimpangan dua jalan utama, yakni jalan Veteran (arah ke Solo) dan jalan Osamaliki (arah ke Semarang).

Mengapa dijuluki demikian, padahal tidak satupun terlihat pedagang yang berjualan sapi. Bagi kita terutama yang muda-muda yang hidup saat ini pasti menerka-nerka.
"Apakah memang ada sapi di pasar sapi?" 

Jawabannya adalah ya. Memang sejakt tahun 1920-an, Belanda punya kebijakan
yang ketat terkait dengan perdagangan sapi ternak di Pulau jawa. Karena kebutuhan ternak sudah mendesak, tidak hanya daging namun juga susu. 

Karena itu Belanda membangun fasilitas perdagangan dan  pemotongan Sapi dam termal sekaligus di Pasar Rejosari. Pasar ini sendiri juga menjual berbagai pusat perdagangan sayur mayur.

Lokasi pasar Rejosari dinilai strategis karena dekat dengan lalulintas daerah-daerah penyuplai hasil bumi lain yakni Ambarawa-Klaten-Solo dan Yogyakarta.

Pasar Ternak Salatiga 1918
Pada tahun 1980, Pasar Rejosari kemudian dilengkapi dengan terminal angkutan kota. Namun lambat laun seiring berkurangnya populasi ternak dan pesatnya perkembangan kota pedagang sapi meninggalkan lokasi tersebut. .

Mungkin karena warga sudah terbiasa menyebut wilayah pasar Rejosari tersebut dengan sebutan pasar ternak sapi yang dahulu pernah ada.



Kamis, 01 Mei 2014

Berikut Berbagai Fakta Unik Para Tukang Parkir Salatiga


Sala3Nostalgia-
Walau Salatiga ternyata punya potret yang serupa dengan kota-kota besar. Yakni tukang parkir. Hanya saja, ada beberapa fakta-fakta unik yang mungkin membedakan dengan tukang parkir di kota lainnya. Berikut fakta-faktanya. 

1. Penghasilan setara gaji karyawan swasta 

Mungkin bagi kita, profesi tukang parkir bukan pekerjaan yang diimpikan. Muncul anggapan, jadi tukang parkir itu tidak punya masa depan karena penghasilan sangat kecil. Namun, bagi sebagian warga salatiga yang menekuni profesi ini, pendapat itu terpatahkan. Para tukang parkir Salatiga, ternyata berpenghasilan setara manajer di perusahaan swasta !

Berdasarkan data yang dihimpun Sala3Nostalgia,  di sejumlah lokasi parkir yang disingahi oleh para mahasiswa, yakni parkiran jalan Kemiri. Selain itu di SD Lab UKSW, dan di depan kampus UKSW. Para pemilik area perkir tersebut bisa merauup pendapatan sebesar Rp 300.000 perhari. Jika dikalikan selama satu bulan, yang mungkin efektif selama 25 hari. Maka bisa meraup penghasian kotor sebesar Rp 7 juta rupiah.

Jika dari penghasilan tersebut dipotong biaya operasional sebesar Rp 2-3 juta saja, tukang parkir itu sudah mendapatkan keuntungan bersih Rp 4-5 juta perbulan.

2. Tersebar disetiap sudut kota

Karena restribusi parkir menjadi salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) Salatiga. Pemerintah Kota (Pemkot) berupaya mendongkrak pendapatan parkir pakir agar kas daerah terdongkrak. Oleh karena itu, ada dua pilihan Pemkot agar bisa memenuhi target tersebut. Pertama, menaikan tarif parkir atau memperluas jangkauan area parkir di kota ini.

Nah untuk tarif parkir, tentu akan banyak penolakan masyarakat jika setiap waktu  naik. Oleh arena itu, praktis pemerintah memilih memperluas jangkauan wilayah parkir keseluruh penjuru kota. Karena itu, wajar akhirnya kita melihat hampir setiap penjuru kota di jalan-jalan terdapat tukang parkir. 

Namun sayang, sangking banyaknya masyarakat sulit membedakan wilayah-wilayah mana yang termasuk parkir liar atau parkir resmi. Banyak warga yang semestinya merasa menikmati layanan parkir, namun justru terganggu keberadaanya.

3. Tetap dibayar walau dilarang


Karena tidak tahu, atau sengaja, biasanya para pengendara tetap mau memarkirkan kendaraanya di tempat tempat para tukang parkir liar beroperasi. Padahal, wilayah itu sudah jelas-jelas diberi tanda larangan parkir oleh pemerintah. Walau berisiko ditilang, pengendara tetap saja mau dan membayar sewa parkir kepada juru parkir liat.  

Akibatnya, beberapa waktu lalu puluhan petugas menggembosi roda belakang ratusan sepeda motor yang terparkir di beberapa titik parkir liar di Jalan Diponegoro dengan cara mencabut pentilnya Selain menempati daerah larangan parkir, tempat parkir liar tersebut juga mengganggu kenyamanan pejalan kaki lantaran lahannya menempati jalan trotoar.

4. Dituduh menyuap pemerintah

Pada 2013 lalu, terjadi ketegangan antara Pembantu Rektor III Univeritas Kristen Satya Wacana (UKSW), Yaffet YW Rissy dengan Kepala UPTD Parkir Dinas Perhubungan Komunikasi Budaya dan Pariwisaya (Dishubkombudpar) Kota Salatiga Agus Nur Solikin.

Kala itu Yaffet menuding UPTD Parkir menerima suap dari juru parkir liar agar mendapatkan jatah lahan di depan kampus UKSW. Tukang parkir di Salatiga dinilai sangat terorganisir berkerjasama dengan oknum pemerintah untuk mendapatkan jatah.
'
Atas tudingan ini, Agus Nur Solikin membantah keras. "Tudingan itu tidak benar. Staf saya tidak pernah menerima setoran (upeti) dari jukir liar. Dan di Salatiga, tidak ada pengorganisasian jukir liar. Silahkan dicek langsung ke kantor saya. Jika ada, tolong catat nama pegawainya dan laporkan ke saya,” ujar Agus, kepada wartawan. (*)

Selasa, 29 April 2014

Salatiga Nostalgia

Bagi sebagian orang yang pernah menetap Salatiga, pasti sulit melupakan kota ini. Ada rasa ingin menetap dan kembali ke kota ini dengan sejuta kenangannya.

Kota seluas 56,781 km2 berlokasi di lereng gunung Merbabu, Jawa Tengah jauh dari kemacetan, polusi, dan jauh dari hiruk pikuk yang bisanya dialami kota besar.

Jelas yang terpikir adalah, rasa rindu akan angin Merbabu dingin menusuk namun menyegarkan, pak'e & mbok'e yang menyapa tiap pagi, senyum ramah warganya.

Belum lagi merasakan tiap pagi pecel unclang dibelakang bioskop tua, bercanda tawa sembari minum wedang ronde bersama kekasih dan sahabat, dan masih banyak lagi keakraban.

Bagi yang merasakan hal sama, melalui akun twitter @Sala3nostalgia, kami menyediakan wadah bagi siapapun yang ingin bersilahturami dan bertukar rindu.

Selain itu, terdapat blog dengan alamat http://salatiganostalgia.blogspot.com/ Bagi yang ingin menyampaikan tulisan,informasi melalui konsep jurnalisme warga (citizen journalisme).

Sala3nostalgia adalah wadah independen yang tidak terafiliasi oleh golongan tertentu. Mengangkat kebanggan namun juga membuka ruang kritik terhadap layanan-layanan publik dan tergerusnya aset-aset heritage kota.

Wadah ini lebih mengutamakan kebutuhan silahturami, dan informasi kepada masyarakat Salatiga. Dikemas dengan menarik untuk menghibur, menggelitik namun tetap bertanggung jawab dengan menghormati kaedah.

Bagi yang ingin berkomunikasi dengan tim administrasi guna menyampaikan gagasan, kritik, ataupun tulisan silahkan kirimkan melalui  silahkan kirimkan ke salatiganostalgia@gmail.com.

Terimakasih

Admin