Senin, 28 Juli 2014

Relawan Salatiga Dapat Apresiasi Setelah Bantu Mengatur Arus Mudik

SALATIGA-Tim relawan dan kalangan masyarakat membantu petugas Kepolisian Resort Salatiga mendapat sambutan positif dari para pemudik.  Tim relawan dibantu organisasi lain seperti PMI,RAPI,KRI Kota salatiga.

Koordinator relawan Pujo Santoso, atau yang akrab di panggil Pujo Omponk trc Minggu malam ( 27/7) pukul 00.00 WIB, mengatakan, Aksi sosial yang tergabung dari beberapa tim relawan yakni dari RAPI,PMI dan KRI kota salatiga selalu berjalan beriringan dalam menggelar kegiatan sosial dan kemanusiaan di kota salatiga.

"Kami selalu berjalan beriringan dalam melakukan aksi sosial kemanusian ini, aksi sosial ini kami lakukan dengan penuh ke ikhlasan dan tanpa pamrih sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat," Ungkap Pujo Omponk.

Selain itu tim Biker salatiga yg di komando oleh Bagas, juga selalu exis dalam mengikuti kegiatan social yg diselenggarakan PMI,KRI dan RAPI. "Saya sangat bangga dengan tingginya rasa kepedulian teman teman biker yang selalu dengan semangat dan exis dalam melakukan aksi sosial membantu masyarakat," ujar Tri , Kepala PMI Salatiga.

Salah salah seorang pemudik dari solo yang saat melintas di JLS mengalami ban bocor mengacungkan jempol terhadap para relawan yang dengan cepat membantu.

"Saya sangat salut dengan para relawan,kiranya hal ini perlu dicontoh, para relawan dengan ikhlas dalam melakukan aksi sosial membantu masyarakat, walau tanpa di gaji dan tidak meminta upah/bayaran saat melakukan aksi sosialnya," ungkapnya.

Salah seorang relawan KRI Salatiga, Gogon menambahkan, Jelang lebaran ini dirinya beserta para relawan selalu stay di Posko untuk membantu masyarakat.

"Saya dan teman teman relawan selalu stay di posko, bahkan sudah 4 hari ini saya dan teman teman tidak pulang,  namun kami sangat bangga bisa membantu masyarakat dengan tanpa pamrih, aksi sosial ini akan terus kami lakukan demi mewujudkan rasa kemanusian di Negeri ini khususnya di kota Salatiga," tambahnya.

Sala3Notalgia/Dian


Jumat, 25 Juli 2014

Ini Mencoreng Nama Salatiga : Kasus Korupsi Stadion Kridanggo Diusut


SALATIGA-Kita sangat menyayangkan sejumlah kasus korupsi makin marak di Salatiga. Setelah beberapa waktu lalu kasus korupsi Jalan Lingkar Selatan (JLS) bergema, kini kasus lain yakni korupsi stadion Kridanggo kembali terbongkar. 

Dua terdakwa korupsi Stadion Kridanggo Salatiga, Agus Yuniarto dan  Joni Setiabudi, akan segera duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Semarang. Ini dipastikan, setelah Kejari Salatiga melimpahkan berkas perkara keduanya ke pengadilan.

"Berkas berpakaranya sudah diterima pengadilan, Senin kemarin," kata Humas Pengadilan Tipikor Semarang, Gatot Susanto, Jumat (25/5).

Disampaikan, berkas keduanya diterima terpisah. Untuk Joni Setiabudi berkas perkaranya bernomor 76/Pid.Sus/PN.Tipikor.Smg/2014, sementara untuk Agus Yuniarto 77/Pid.Sus/PN.Tipikor.Smg/2014.
"Pengadilan juga sudah menetapkan majelis hakim untuk keduanya, tinggal menunggu jadwal sidang," sambung dia.

Dalam perkara dugaan korupsi pembangunan Stadion Kridanggo Salatiga, penyidik Kejati Jateng menetapkan dua orang tersangka. Mereka, rekanan atau pihak ketiga yang juga pemilik PT. Tegar Arta Kencana, Agus Yuniarto, dan mantan Bendahara KONI Salatiga, Joni Setiabudi.

Anggaran pembangunan dalam proyek ini sebesar Rp 3,94 miliar, yang berasal dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pengerjaan proyek tersebut diketahui tidak sesuai perjanjian dan acuan teknis. Selain itu, terdapat beberapa jenis pekerjaan yang tidak digarap rekanan, sehingga mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 700 juta. (*)

Sala3Nostalgia/Dian

Waspada Jalur Bawen Salatiga Ada Penyempitan


SALATIGA-Pengemudi harap berhati-hati melintasi jalur Bawen-Salatiga, karena ada beberapa titik penyempitan. Jalan lingkar selatan Kota Salatiga bisa menjadi pilihan melintas. Selain itu  waspadai antrean kendaraan memanjang di lampu merah perempatan arah Kopeng.

Pada jalur tersebut, sejumlah posko mudik terdapat di beberapa titik. Baik posko mudik bantuan maupun posko keamanan. Posko pengamanan TNI-Polri bisa ditemui di tepat setelah pintu keluar tol Bawen.Sejumlah pengguna jalan tampak memadati SPBU Tuntang untuk beristirahat.

Sala3Nostalgia/Dian

Kamis, 24 Juli 2014

Menelusuri Jejak Makam Misterius Desa Sugihwaras Salatiga

Kewingitan Gumuk Jimbrek, Salatiga sampai sekarang masih cukup diakui. Terutama bagi kalangan spiritualis dan ahli laku spiritual. Karenanya di tempat ini masih diyakini punya yoni untuk ritual khusus seperti ngalab berkah.

Salah satu mitos yang masih dipatuhi masyarakat, bahwa gumuk angker ini adalah tempat wahana mistik menaikan pangkat para pejabat. Benarkah? Keberadaan gumuk yang berada di Desa Sugihwaras, Salatiga ini sangat terkait dengan mitos dan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Disebut Gumuk, berarti gudukan tanah tinggi menyerupai bukit kecil. Sedangkan jimbrek, diidentikan dengan jembeg yang berarti becek dan kotor. Namun, pengertian ini lebih mendekati nuansa mistis sehingga kata lain disebut artian gumuk angker.

Cerita Gumuk Jimbreg, memang cukup menggiriskan warga sekitarnya. Betapa tidak ! mereka banyak yang percaya bahwa di lahan ini merupakan sarangnya bangsa dedemit. Hingga suatu waktu muncul siluman ular dan bangsa lelembut lainnya.

Karena situasi wingit inilah beberapa warga petani yang berada di sekitar gumuk mengaku selalu dicekam rasa ketakutan, was-was, bahwa setiap kali kambingnya tiba-tiba lenyap bila masuk di areal ini.

Mitos kewingitan ini terkait dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Salatiga, diawali oleh keberadaan seorang tokoh yang bernama Ki Ajar Sampoerna. Namun menurut Eyang Karto, 65 tahun, juru kunci gumuk jimbrek, Ki Ajar adalah salah satu guru spiritual Bung Karno.

Namun, versi lain ada yang menyebut tokoh ini adalah salah satu prajurit panglima perang Pangeran Diponegoro. Betulkah demikian? Dikisahkan pada perang sakral (1835-1836) itu terjadi di wilayah Jateng secara keseluruhan.


Pengeran Diponegoro menerapkan siasat bergerilya sehingga Belanda dibuat kocar-kacir. Hingga siasat licik Kapten Tack akhirnya berhasil menawan beliau dan dibuangnya dalam pengasingan.

Dan, mitos kekeramatan gumuk ini sampai sekarang masih sangat dipercayai oleh peziarah. Bahkan, ada semacam kepercayaan bahwah banyak yang nyadran di makam ini berhasil mencapai apa yang dimohonkan. Eyang Karto sendiri menegaskan jika keberhasilan para peziarah itu sudah tidak terhitung lagi.

Buktinya diantara peziarah banyak yang kembali untuk menggelar selamatan berupa menyembelih kambing di makam ini. Puncaknya, pada saat haul yang diadakan pada malam Suroan. “Peziarah yang berhasil akan datang ke tempat ini kembali sebagai tanda bahwa nadarnya telah terkabul,” kata Eyang Karto.

Bapak tua yang satu keluarganya hidup diabdikan untuk merawat wasilah ini menyebutkan jika tujuan para peziarah ini sangat beragam. Ada yang hanya lelaku batin artinya cuma mencari solusi berupa ketenangan baru, untuk penyembuhan penyakit, laku spiritual sebagai tuntutan seorang musyafir.

Namun, ada juga yang meminta agar diberi kesuksesan dalam berkerja, disayang atasan, dan cepat naik pangkat dalam meniti karirnya.Namun, umumnya para pelaku spiritual mempercayai bawha makam ini khusus untuk berburu berkah bagi calon pejabat dan pengusaha.

“Para peziarah yang lelaku di sini syaratnya cuma sederhana saja. Cukup membawa kembang telon dan dupa. Biasanya mereka ini puasa minimal sehari semalam. Sambil berdoa di makam sesuai dengan maksud dan tujuannya,” ujarnya.

Ritual ini dipercayai sebagai bentuk komunikasi gaib pelaku pada penghuni makam. “Maka lewat kemapunya ilmu himah Ki Ajar dan Eyang Diponegioro dan Bung Karno mudah-mudahan berkah itu bisa terkabulkan,” tambahnya Eyang Karto.

Sala3Nostlagia

Wah, Tiga Titik Jalan di Salatiga ini Rawan Kecelakaan


SALATIGA – Bagi para pemudik yang ingin kembali ke kampung halaman Salatiga atau yang melalui jalur salatiga dari berbagai daerah sebaiknya hati-hati. Ada tiga titik jalan yang paling rawan kecelakaan di Salatiga, Jawa Tengah. 

Kasatlantas Polres Salatiga, AKP Faturrahman menjelaskan, ketiga titik lokasi rawan kemacetan tersebut adalah di titik pintu masuk keluar JLS-Glotongan, pintu JLS- Cebongan dan pusat perbelanjaan di sekitar Jalan Jenderal Sudirman.

Menurut Faturrahman. daerah tersebut rawan karena pada malam hari di JLS  minim lampu penerang jalan.“Sebagai antisipasi, kami sudah menyiagakan personel di tiga lokasi rawan tersebut,” katanya, Jumat (25/7).

Para pemudik diminta mewaspadai tiga titik rawan kemacetan dan satu titik lokasi rawan terjadinya kecelakaan di Jalur Lintas Salatiga (JLS), Jawa Tengah. Sejumlah antisipasi sudah dilakukan agar pemudik tetap nyaman melintas di jalur tersebut.

Selain itu, kata Faturrahman yang harus diwaspadai pemudik di sepanjang JLS adalah di turunan lampu merah Umbulrejo yang merupakan salah satu titik lokasi rawan kecelakaan. Untuk mengantisipasi pihaknya akan menambah rambu dan penerang jalan.


Sala3nostalgia/Dian

Selamat Mudik: Jalur Salatiga diperkirakan Padat Hari ini



 SALATIGA-Jalur Salatiga dari Semarang menuju Solo melalui Jalan Lingkar Selatan (JLS), diperkirakan padat pada hari ini Jumat (25/7) ini. Pasalnya, jembatan Comal di Pemalang Jawa Tengah telah diperbaiki.  

Menurut Petugas Satlantas Polres Salatiga, Ipda Hery, arus kendaraan telah padat kembali sejak Kamis (24/7). Ini artinya, mulai hari berikutnya volume kendaraan akan terus meningkat.

“Volume kendaraan akan cukup padat. Hari ini jembatah Comal sudah selesai diperbaiki dan sudah dibuka. Jadi kemungkinan arus kendaraan akan semakin padat dari arah Semarang ke arah Solo yang akan melalui Kota Salatiga,” pungkas Hery.

Menurut pengamatan Sala3Nostalgia, sejak kamis sore kemarin di pos pemantauan mudik Blotongan, kepadatan arus lalu lintas didominasi dari arah Semarang menuju Solo, sedang dari arah sebaliknya relatif sepi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, memasuki H-4 Lebaran, volume kendaraan dari arah Semarang menuju Solo yang melintas di Jalan lingkar Selatan (JLS) Salatiga mulai menunjukkan peningkatan.

Tidak hanya kendaraan berat seperti bus dan truk besar,  kendaraan pribadi baik kendaraan roda empat dan roda dua juga sudah banyak yang melintas jalan raya Semarang – Salatiga via JLS menuju arah Solo.


Sala3Nostalgia/Dian


Wasiat "Srir Astu Swasti Prajabyah" yang Mengagumkan


Ada beberapa sumber yang dijadikan dasar untuk mengungkapkan asal-usul Salatiga, yaitu yang berasal dari cerita rakyat, prasasti, maupun penelitian dan kajian yang cukup detail. Dari beberapa sumber tersebut Prasasti Plumpungan-lah yang dijadikan dasar asal-usul Kota Salatiga.

Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Nomor 15 Tahun 1995 Tentang Hari Jadi Kota Salatiga.

Prasasti Plumpungan Cikal bakal lahirnya Salatiga tertulis dalam batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter yang selanjutnya disebut prasasti Plumpungan.

Berdasarkan Prasasti yang berada di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo itu, maka Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi, yang ada pada saat itu merupakan wilayah Perdikan. Sejarahwan yang sekaligus ahli Epigraf Dr. J. G. de Casparis mengalihkan tulisan tersebut secara lengkap yang selanjutnya disempurnakan oleh Prof. Dr. R. Ng Poerbatjaraka.

Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swatantra bagi suatu daerah yang ketika itu bernama Hampra, yanng kini bernama Salatiga. Pemberian perdikan tersebut merupakan hal yang istimewa pada masa itu oleh seorang raja dan tidak setiap daerah kekuasaan bisa dijadikan daerah Perdikan.

Perdikan berarti suatu daerah dalam kerajaan tertentu yang dibebaskan dari segala kewajiban pembayaran pajak atau upeti karena memiliki kekhususan tertentu. Dasar pemberian daerah perdikan itu diberikan kepada desa atau daerah yang benar-benar berjasa kepada seorang raja.

Prasasti yang diperkirakan dibuat pada Jumat, 24 Juli tahun 750 Masehi itu, ditulis oleh seorang Citraleka, yang sekarang dikenal dengan sebutan penulis atau pujangga, dibantu oleh sejumlah pendeta atau resi dan ditulis dalam bahasa jawa kuno: "Srir Astu Swasti Prajabyah" yang berarti "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian".

Sejarahwan memperkirakan, bahwa masyarakat Hampra telah berjasa kepada Raja Bhanu yang merupakan seorang raja besar dan sangat memperhatikan rakyatnya, yang memiliki daerah kekuasaan meliputi sekitar Salatiga, Kabupaten Semarang, Ambarawa, dan Kabupaten Boyolali.

Penetapan di dalam prasasti itu merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah Perdikan dan dicatat dalam prasasti Plumpungan. Atas dasar catatan prasasti itulah dan dikuatkan dengan Perda No. 15 tahun 1995 maka ditetapkan Hari Jadi Kota Salatiga jatuh pada tanggal 24 Juli.

Sala3Nostalgia/Dian